Padang, 24 Februari 2026 , MedanPers. Id
Di tengah era digital yang sering kali menggerus tradisi lisan, sosok Ibrahim Datuak Sangguno Dirajo (1858–1949) tetap menjadi mercusuar literasi bagi masyarakat Minangkabau. Lahir di Sungayang, Tanah Datar, Sumatera Barat, pria yang hidup selama 91 tahun ini mendedikasikan dirinya mendokumentasikan hukum adat, sejarah asal-usul, dan filosofi hidup Minangkabau yang sebelumnya hanya diwariskan secara lisan melalui bakaba (cerita mulut ke mulut).
Menurut arsip Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Datuak Sangguno Dirajo bukan sekadar pemangku adat, melainkan intelektual visioner yang melihat tulisan sebagai benteng terakhir melawan hilangnya identitas budaya. "Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah," filosofi yang ia tuangkan dalam karya-karyanya, menjadi jembatan antara tradisi kuno dan dunia modern.Dua mahakaryanya yang monumental hingga kini menjadi rujukan utama di kalangan penghulu, akademisi, dan perpustakaan internasional:Tambo Alam Minangkabau: Narasi epik tentang asal-usul, persebaran, dan sejarah orang Minangkabau, yang pertama kali diterbitkan pada awal abad ke-20.Mustika Adat Alam Minangkabau: Ensiklopedia komprehensif tentang tatanan hukum adat, etika, pembagian harta pusaka, hingga tata cara penobatan penghulu.Pada masa kolonial Hindia Belanda, peran beliau semakin strategis. Para peneliti Eropa seperti Christiaan Snouck Hurgronje merujuk karyanya untuk memahami struktur sosial Minangkabau, sementara tokoh pergerakan nasional seperti Mohammad Yamin memanfaatkannya untuk membangun kesadaran nasional.
Seorang sejarawan Sumbar, Dr. Navis, pernah menyebutnya sebagai "penjaga gerbang memori kolektif" dalam bukunya Padang Bulan.
Warisannya tetap relevan bagi generasi muda Minang di era globalisasi.
Saat ini, naskah-naskah asli disimpan di Museum Adityawarman dan perpustakaan universitas seperti Universitas Andalas, sementara edisi digital mulai diakses melalui portal Kebudayaan Kemdikbud.
"Tanpa beliau, kita mungkin lupa asal-usul," ujar seorang aktivis budaya Minang di media sosial, menggemakan pesan bahwa kekayaan bangsa terletak pada naskah yang terjaga.Hingga wafatnya pada 1949, Datuak Sangguno Dirajo mengajarkan bahwa alam takambang jadi guru—alam yang berkembang menjadi guru—harus diabadikan agar tidak pudar. Kisahnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk melestarikan gudang ilmu adat di tengah arus perubahan.
(Sumber: Wikipedia, arsip Perpustakaan Nasional RI, dan studi sejarah Sumatera Barat)#DatuakSanggunoDirajo #AdatMinangkabau #TamboMinang
#SejarahSumbar #LiterasiBudaya
Social Header