Breaking News

Misteri Kematian Winda Lauren Gowasa Terkuak, Autopsi Ungkap Peluru Berhenti di Kepala: Luka Tembak Tempel Jadi Fakta Kunci

 
Medan – MedanPers.Id
Tabir kematian Winda Lauren Gowasa (31), mantan istri anggota kepolisian yang ditemukan tewas dengan luka tembak di kepala, mulai menemukan titik terang. Hasil autopsi tim forensik Rumah Sakit Bhayangkara Medan mengungkap fakta mengejutkan: peluru tidak menembus keluar karena energinya habis setelah menghantam tulang kepala korban.

Dokter Forensik RS Bhayangkara Medan, dr. Mistar Ritonga, Sp.F(K), menyebut luka yang dialami Winda merupakan luka tembak tempel (contact gunshot wound), yakni kondisi ketika moncong senjata api berada langsung menempel pada kulit korban saat peluru dilepaskan.
"Kesimpulan ini berdasarkan pemeriksaan menyeluruh, termasuk pemeriksaan radiologi sebelum autopsi untuk mengetahui posisi proyektil," ujar dr. Mistar saat memberikan keterangan di Mapolrestabes Medan, Kamis (6/8/2026).

@Peluru Masuk, Pecahkan Tulang, Lalu Berhenti di Bawah Kulit
Tim forensik terlebih dahulu melakukan rontgen untuk memastikan posisi anak peluru di dalam kepala korban. Setelah lokasi proyektil diketahui, barulah dilakukan pembedahan.

Hasilnya, ditemukan benjolan di sisi kiri kepala Winda yang ternyata merupakan tempat terakhir proyektil berhenti.
"Setelah dibuka, ditemukan proyektil di bawah kulit kepala. Kondisinya sudah mengalami deformasi atau berubah bentuk karena membentur tulang kepala," jelasnya.

Menurut dokter forensik, peluru masuk dari sisi kanan kepala, kemudian melewati struktur keras tengkorak hingga menyebabkan retakan. Benturan dengan tulang membuat energi proyektil berkurang sehingga tidak memiliki daya cukup untuk keluar kembali.
"Peluru melewati bagian yang keras, yaitu tulang. Energinya sudah berkurang sehingga akhirnya berhenti di bawah kulit," ungkapnya.

Fakta Forensik: Tidak Ada Luka Kekerasan Lain
Hasil autopsi juga mempersempit ruang spekulasi. Tim forensik memastikan tidak menemukan tanda kekerasan lain pada tubuh korban.
"Luka yang ditemukan hanya luka tembak. Bekas sayatan lainnya merupakan bagian dari proses autopsi," tegas dr. Mistar.

Ia juga menjelaskan mengenai kondisi memar di sekitar mata korban yang sebelumnya menjadi perhatian publik. Menurutnya, hal tersebut bukan akibat pukulan atau benturan benda keras.
"Itu merupakan hematoma akibat pecahnya pembuluh darah kecil di sekitar mata, bukan tanda kekerasan," katanya.

Sementara perubahan warna kebiruan pada tangan dan kaki korban disebut sebagai lebam mayat (livor mortis), sebuah proses alami setelah kematian akibat pengaruh gravitasi terhadap peredaran darah.
Luka Tembak Tempel Jadi Petunjuk Penting Penyidikan

Dalam ilmu kedokteran forensik, luka tembak dikategorikan menjadi empat jenis, yaitu luka tembak tempel, sangat dekat, dekat, dan jauh.
Temuan luka tembak tempel dalam kasus Winda menjadi salah satu bukti ilmiah penting bagi penyidik untuk mengungkap bagaimana posisi senjata, jarak tembakan, serta kemungkinan rangkaian peristiwa sebelum korban meninggal.

Namun, hasil autopsi bukanlah akhir dari penyelidikan. Fakta forensik harus disandingkan dengan alat bukti lain, mulai dari pemeriksaan saksi, rekonstruksi kejadian, analisis senjata api, hingga pendalaman hubungan korban dengan pihak-pihak terkait.

Kasus Winda Lauren Gowasa kini memasuki babak penting. Satu fakta sudah terungkap dari meja autopsi: peluru ditembakkan dalam jarak menempel. Pertanyaan besar berikutnya adalah — siapa yang memegang senjata, dan bagaimana tembakan itu bisa terjadi?

FFU

#WartaGlobalInvestigasi
#KasusWindaGowasa
#Forensik
#UngkapFakta
© Copyright 2022 - MEDAN PERS