
Jakarta –MedanPers.Id
Nilai tukar rupiah terus menghadapi tekanan.
Di tengah upaya Bank Indonesia mempertahankan stabilitas melalui kebijakan suku bunga, pertanyaan publik pun mengemuka: mengapa rupiah masih belum mampu bangkit?
Ekonom senior Lili Yan Ing, melalui tayangan video yang beredar di media sosial, menilai persoalan utama bukan lagi semata-mata berada di tangan Bank Indonesia. Menurutnya, akar masalah justru berasal dari kondisi fiskal pemerintah yang semakin berat akibat defisit anggaran, belanja proyek-proyek besar, serta berbagai komitmen politik yang membutuhkan dana sangat besar.
Jika pandangan tersebut tepat, maka kenaikan suku bunga hanya menjadi "obat penahan sakit", sementara sumber penyakitnya belum disentuh.
Bank Indonesia dapat menjaga stabilitas moneter, mengendalikan inflasi, dan menstabilkan pasar keuangan. Namun ketika belanja negara terus melaju tanpa pengendalian yang memadai, tekanan terhadap rupiah berpotensi tetap bertahan.
Banyak ekonom selama ini mengingatkan bahwa stabilitas nilai tukar tidak hanya bergantung pada kebijakan bank sentral.
Kepercayaan investor juga dipengaruhi oleh disiplin fiskal, kredibilitas pengelolaan APBN, serta kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran negara.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, setiap sinyal pelebaran defisit atau meningkatnya kebutuhan pembiayaan dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap aset-aset Indonesia.
Kini sorotan publik mengarah pada pemerintah. Apakah belanja negara akan mulai diprioritaskan secara lebih selektif, atau justru tetap dipacu demi mengejar berbagai proyek dan janji politik?
Jika koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter tidak diperkuat, beban menjaga stabilitas rupiah akan semakin berat dipikul Bank Indonesia sendirian.
Pada akhirnya, pasar tidak hanya melihat seberapa tinggi suku bunga dinaikkan. Pasar juga memperhatikan seberapa disiplin pemerintah mengelola uang negara.
Rupiah membutuhkan lebih dari sekadar kenaikan suku bunga. Rupiah membutuhkan kepercayaan. Dan kepercayaan lahir dari tata kelola fiskal yang kredibel, transparan, dan berhati-hati.
Social Header