
Jakarta-WartaGlobal.Id
Di era media sosial, menghakimi orang lain menjadi begitu mudah. Seseorang yang berbeda pandangan, melakukan kesalahan, atau memiliki masa lalu kelam, sering kali langsung dicap sebagai "setan", "sesat", atau "tidak layak masuk surga". Padahal, tidak ada manusia yang diberi kewenangan untuk menghakimi isi hati seseorang.
Dalam ajaran Islam, persoalan keimanan dan penilaian akhir terhadap manusia merupakan hak Allah SWT. Para ulama juga mengingatkan bahwa vonis terhadap keyakinan seseorang tidak boleh dilakukan secara serampangan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan bahwa penetapan status kekufuran memiliki syarat dan prosedur yang sangat ketat, serta bukan kewenangan individu.
Nabi Muhammad SAW bahkan memberikan peringatan keras agar seorang Muslim tidak mudah melabeli Muslim lainnya sebagai kafir. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa apabila seseorang mengatakan kepada saudaranya, "Hai kafir," sementara tuduhan itu tidak benar, maka ucapan tersebut kembali kepada orang yang mengatakannya. Para ulama menjelaskan bahwa hadis ini merupakan peringatan agar umat berhati-hati dalam menghakimi sesama.
Fenomena saling menghakimi juga memiliki dampak sosial yang serius. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pelabelan negatif dan dehumanisasi dapat memperkuat polarisasi, memicu kebencian, dan merusak kohesi sosial. Ketika seseorang lebih sibuk menghakimi daripada memperbaiki diri, ruang dialog berubah menjadi ruang permusuhan.
@ "Kalau kita bukan nabi, maka jangan sok-sokan mengatakan orang lain sebagai setan," bukan berarti membenarkan setiap perbuatan salah. Kalimat tersebut mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam mengetahui isi hati, niat, dan perjalanan hidup orang lain.
Yang dapat dinilai adalah perbuatan berdasarkan fakta, sedangkan keputusan akhir tentang iman dan balasan adalah hak Tuhan.
Masyarakat membutuhkan lebih banyak teladan yang mengedepankan empati, nasihat yang bijaksana, dan penghormatan terhadap proses hukum maupun etika, bukan budaya saling menghakimi yang hanya memperdalam perpecahan.
Pada akhirnya, setiap orang akan mempertanggungjawabkan amalnya sendiri. Sebelum sibuk menunjuk siapa "setan", mungkin lebih bijak bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi manusia yang lebih baik hari ini?
Afan
Sumber :
Imam Al-Ghazali
Takfir in Islamic Thought
Shahih Muslim dan Shahih al-Bukhari
Social Header