
WartaGlobal.Id – Di tengah zaman yang serba terencana, mulai dari karier, investasi hingga pernikahan, ada satu hal yang tetap sulit dikendalikan manusia: cinta.
Pemikiran tersebut disampaikan oleh Dr. Fahruddin Faiz, yang mengingatkan bahwa cinta bukanlah sesuatu yang dapat direkayasa oleh logika ataupun diprogram sesuai keinginan.
Menurutnya, seseorang mungkin mampu menyusun rencana pernikahan secara matang—menentukan waktu, memilih pasangan, hingga mempersiapkan kondisi ekonomi. Namun, perasaan cinta tidak lahir karena perencanaan.
"Cinta adalah sesuatu yang tumbuh secara alami. Ia datang tanpa bisa diperintah dan sering kali muncul di luar dugaan," demikian esensi pemikiran yang disampaikan.
Pandangan ini menjadi pengingat bahwa perkawinan dan cinta merupakan dua hal yang berbeda. Perkawinan adalah keputusan yang dibangun di atas komitmen, tanggung jawab, dan kesiapan menjalani kehidupan bersama. Sebaliknya, cinta merupakan pengalaman batin yang tumbuh secara spontan dan tidak dapat dipaksakan.
Dalam realitas kehidupan, tidak sedikit pasangan yang menikah karena berbagai pertimbangan rasional, tetapi membutuhkan waktu panjang untuk menumbuhkan cinta. Sebaliknya, banyak pula kisah cinta yang begitu mendalam namun tidak pernah sampai ke pelaminan karena berbagai keadaan.
Refleksi ini menegaskan bahwa manusia memiliki kuasa untuk merencanakan langkah hidup, tetapi tidak memiliki kendali penuh atas kepada siapa hatinya akan berlabuh. Di situlah cinta menunjukkan sifatnya yang paling manusiawi: hadir tanpa undangan dan terkadang pergi tanpa pemberitahuan.
Pesan Dr. Fahruddin Faiz menjadi renungan bahwa kebahagiaan dalam hubungan tidak hanya ditentukan oleh kuatnya perasaan, tetapi juga oleh kesediaan memikul tanggung jawab ketika cinta telah menemukan tempatnya. Sebab, perkawinan dapat dirancang dengan akal, namun cinta tetap menjadi bahasa hati yang tak selalu mengikuti kehendak manusia.
Sumber : Dr. Fahruddin Faiz:
Afkan
Social Header