Breaking News

Garam Buatan Rote Ndao: Peluang Kerja 26 Ribu dan Mimpi Kurangi 2,8 Juta Ton Impor


ROTE NDAO NTT, MedanPers. Id
Di antara teriknya matahari dan hamparan laut selatan Nusa Tenggara Timur, pemerintah menyiapkan satu taruhan besar untuk mengakhiri ketergantungan impor: Kawasan Sentra Industri Garam Nasional (K-SIGN). Dengan 13.000 hektare lahan yang siap diubah jadi tambak industri, proyek strategis nasional ini diproyeksikan mengangkat Rote Ndao dari pinggiran jadi pusat garam nasional.

PT Garam, unit usaha milik ID Food, menyatakan bahwa produksi awal akan dimulai tahun ini dengan kapasitas 50—100 ribu ton. Namun itu baru permulaan: setelah ekspansi lahan, K-SIGN diperkirakan mampu memproduksi hingga 350 ribu ton dalam dua tahun ke depan. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut progres pembangunan telah mencapai 95 persen, dan menargetkan penyelesaian pertengahan 2026.
Alasan pemilihan Rote Ndao sederhana: alam mendukung. Intensitas sinar matahari NTT yang mencapai 8—9 bulan per tahun sekaligus luas lahan pesisir menjadikan wilayah ini ideal untuk produksi garam kristal berkualitas industri—sebuah kendala klasik yang selama ini menghambat produksi garam lokal masuk rantai pasok industri pangan dan kimia.

@Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyambut proyek ini sebagai “game changer” untuk ekonomi lokal. Selain meningkatkan pendapatan petani garam tradisional, K-SIGN diprediksi menyerap hingga 26 ribu tenaga kerja dan menggerakkan rantai nilai lokal—mulai distribusi, pengolahan, hingga transportasi.


Namun tantangan tetap besar. Meski mampu menambah ratusan ribu ton, K-SIGN sendiri masih jauh dari menggantikan impor garam industri saat ini yang mencapai sekitar 2,8 juta ton per tahun dari negara seperti China, India, dan Australia. Selain kuantitas, kualitas juga krusial: garam industri memerlukan standar kemurnian dan konsistensi yang selama ini sulit dipenuhi produsen lokal.

Pemerintah berharap lompatan teknologi modernisasi pengolahan dan manajemen tambak akan mengatasi hambatan itu. Jika target kualitas terpenuhi, garam Rote Ndao bukan hanya menggantikan impor dalam nisbah tertentu, tetapi juga membuka peluang hilirisasi dan industrialisasi garam di dalam negeri.

Pertanyaan besar yang tersisa: apakah kapasitas bertahap ini cukup cepat untuk memangkas impor 2,8 juta ton, dan bagaimana kesiapan rantai pasok nasional menyerap produksi baru? Jawabannya akan mulai terlihat akhir tahun ini ketika produksi K-SIGN mulai mengalir ke pasar.

Untuk warga Rote Ndao, proyek ini menjanjikan pekerjaan dan pendapatan baru. Untuk Indonesia, ini ujian kemampuan mengubah keunggulan sumber daya lokal menjadi kemandirian strategis.
© Copyright 2022 - MEDAN PERS