Breaking News

Aparat Ngaku TNI Mabes Intimidasi Turis Turki di Medan:  Larang Rekam May Day, Paksa Hapus Video!

Aparat Ngaku TNI Mabes 
Intimidasi Turis Turki di Medan: 
Larang Rekam May Day, Paksa Hapus Video!


Medan, MedanPers. Id
Sebuah insiden memalukan terjadi di Lapangan Merdeka Medan saat peringatan May Day, Jumat (1/5). Yonca, turis asal Turki yang sedang asyik merekam aksi buruh, tiba-tiba dikerumuni segerombolan pria misterius yang mengaku aparat. Mereka kasar melarang pengambilan foto dan video, lalu memaksa Yonca menghapus semua dokumentasi dengan alasan "keamanan nasional" yang samar-samar.
Siapa, Apa, Kapan, di Mana?

Yonca, wisatawan Turki yang tak berdosa, menjadi korban intimidasi ini sekitar pukul siang di pusat aksi May Day. Para pria tak beridentitas jelas—hanya mengaku aparat—langsung menginterogasi dan mengancamnya. Massa aksi Aliansi Kebangkitan Buruh Rakyat (AKBAR) Sumut langsung naik darah, membela Yonca dan beradu mulut sengit dengan para pengganggu itu.

KontraS Sumut tak tinggal diam. Koordinator mereka, [nama jika ada], menyebut kejadian ini sebagai pelanggaran telanjang terhadap kebebasan informasi dan ekspresi. "Ini bukan pertama kali aparat abal-abal main hakim sendiri. Mereka takut rekaman jadi bukti kekerasan polisi atau represi buruh!" tegas mereka.

Mengapa dan Bagaimana?
Alasannya? Hanya "keamanan" yang tak jelas, padahal Lapangan Merdeka ramai demonstran damai. Yonca sempat ketakutan, tapi akhirnya lolos dan melanjutkan perjalanan setelah didampingi massa AKBAR. Kasus ini mencoreng citra Indonesia di mata dunia, apalagi menjelang libur panjang—turis asing justru diusir seperti kriminal karena berani dokumentasikan hak buruh.
Yonca sendiri mengaku trauma: "Saya hanya ingin tunjukkan solidaritas global pada pekerja. Tapi mereka ancam saya!" Ini bukan sekadar insiden kecil; ini pola lama represi yang kini menjangkiti turis asing. Polda Sumut dan Kemenhub diminta selidiki identitas para pria itu—jangan-jangan antek rezim yang alergi kamera.

Kasus ini wajib jadi pengingat: Kebebasan berpendapat bukan hak elit, tapi hak semua, termasuk turis. Kalau aparat beneran, buktikan dengan identitas, bukan intimidasi!
© Copyright 2022 - MEDAN PERS