
JAKARTA,MedanPers.Id
Di tengah kepanikan pasar soal rupiah anjlok dan dolar AS terbang, jurnalis Netti lempar narasi menohok: “Apapun ceritanya saya tetap cinta rupiah. Siapa sebenarnya yang paling terdampak?”
Pertanyaan Netti nyambung sama realita warung: “Toh masyarakat tetap makan nasi putih + kecap manis, atau nasi goreng ceplok telur setengah matang plus teh hangat.” Rupiah turun, tapi piring rakyat tetap diisi. Lantas siapa yang benar-benar “angkat” dampaknya?
3 Kelompok yang “Angkat” Dampak Dolar Naik
1. Importir & Industri Bahan Baku
Dolar naik = harga barang impor, bahan baku pabrik, minyak, gandum, kedelai langsung ikut naik. Beban ini lama-lama geser ke harga jual. Ini kelompok paling cepat kena hantam.
2. Pemerintah & Pembayar Utang
APBN kita masih banyak utang denominasi dolar. Rupiah lemah = beban bunga + cicilan utang membengkak. Ujungnya ruang fiskal buat subsidi & bansos bisa kepotong.
3. Rakyat Kelas Menengah Bawah
Benar kata Netti, hari ini nasi + ceplok telur masih ada. Tapi kalau dolar tahan lama di atas, harga beras, minyak goreng, telur, tepung akan merayap naik. “Cinta rupiah” diuji saat belanja bulanan makin tipis.
Kenapa Rupiah Ngos-ngosan?
Dolar menguat karena The Fed masih jaga suku bunga tinggi + ketidakpastian global. Investor lari ke “safe haven” dolar. Sementara ekspor RI, meski kuat, belum cukup lawan arus keluar modal.
“Pedas Terukur” dari Lapangan
Netti mengingatkan: makroekonomi boleh panik, mikroekonomi rakyat lebih kalem. Tapi kalem bukan berarti aman. Rupiah anjlok itu seperti bocor halus di ban. Awalnya masih jalan, lama-lama kempes.
Pemerintah sudah main jurus: intervensi BI, promosi Panda Bond ke China biar nggak tergantung dolar, jaga stok pangan. Tapi kalau harga bahan pokok naik, “cinta rupiah” rakyat diuji pakai harga, bukan slogan.
Garis bawah jurnalis:
Yang paling terdampak bukan yang teriak paling kencang di X/Twitter. Tapi ibu-ibu di pasar saat harga telur naik Rp2.000/kilo. Dolar naik itu statistik. Harga naik itu luka.
Netti "kita tetap makan nasi + kecap. Pertanyaannya, berapa lama porsinya tetap sama sebelum “cinta rupiah” harus bayar lebih mahal?
Social Header