Jakarta, 6/2/2026, MedanPers. Id
Perbedaan mendasar antara Khalifah (Anak Adam) dan Anak Iblis di bumi bukan terletak pada dahi yang hitam, gelar yang berderet, atau kefasihan lidah dalam berucap, melainkan pada letak harta dalam koordinat jiwanya.
*Tentang Kepemilikan: Khalifah memegang harta di tangan. Baginya, harta adalah "kendaraan" dan "perhiasan" untuk memuliakan ilmu. Ia mudah melepas karena tahu segalanya adalah titipan.
*Anak Iblis menanam harta di dalam hati. Materi adalah nyawanya. Karena harta ada di dalam hati, maka setiap kali harta itu keluar atau dibagi, ia merasa jiwanya tercabik dan kesakitan.
Tentang Ketulusan: Khalifah memberi untuk menghidupkan cahaya (seperti Khadijah). Ia bergerak dengan prinsip kelimpahan (abundance); ia memberi karena ia merasa kaya oleh Tuhan.
Anak Iblis memberi untuk memancing keuntungan. Ia bergerak dengan prinsip kekurangan (scarcity); setiap pemberian adalah umpan transaksional yang wajib mendatangkan imbal balik.
Tentang Hubungan (Warisan): Khalifah lebih takut kehilangan saudara daripada kehilangan tanah. Ia menjaga amanah orang tua sebagai jalan menuju surga.
*Anak Iblis tega memutus urat nadi persaudaraan demi sejengkal tanah.
Baginya, orang tua hanyalah sumber aset, dan saudara adalah saingan yang harus disingkirkan.Tentang Cahaya Ilmu: Khalifah menghiasi ilmu dengan harta agar kebenaran tidak redup di bumi.
*Anak Iblis membakar cahaya ilmu demi memanaskan tungku kekayaan pribadinya; ia menjual ayat dan ilmu demi kemilau dunia yang fana.
"Seorang Khalifah menggunakan dunia untuk membeli akhirat, sementara Anak Iblis menjual akhirat hanya untuk menyewa dunia sebentar saja. Orang tua yang sadar sudah melihat benih ini sejak mereka kecil: siapa yang tangannya terbuka untuk berbagi, dan siapa yang jemarinya melengkung untuk merampas."
Sebuah pesan mendalam tentang perbedaan mendasar antara Khalifah (Anak Adam) dan Anak Iblis di bumi telah viral di media sosial. Pesan ini menekankan bahwa perbedaan antara keduanya tidak terletak pada penampilan luar, gelar, atau kefasihan lidah, melainkan pada letak harta dalam koordinat jiwanya.
Khalifah memegang harta di tangan, menggunakannya sebagai "kendaraan" dan "perhias, untuk memuliakan ilmu. Ia mudah melepas karena tahu segalanya adalah titipan. Di sisi lain, Anak Iblis menanam harta di dalam hati, menjadikan materi sebagai nyawanya.
Pesan ini juga menyoroti tentang ketulusan. Khalifah memberi untuk menghidupkan cahaya, bergerak dengan prinsip kelimpahan (abundance), sementara Anak Iblis memberi untuk memancing keuntungan, bergerak dengan prinsip kekurangan (scarcity).
Dalam hal hubungan, Khalifah lebih takut kehilangan saudara daripada kehilangan tanah, menjaga amanah orang tua sebagai jalan menuju surga. Anak Iblis, di sisi lain, tega memutus urat nadi persaudaraan demi sejengkal tanah.
Pesan ini diakhiri dengan kalimat penutup yang mendalam: "Seorang Khalifah menggunakan dunia untuk membeli akhirat, sementara Anak Iblis menjual akhirat hanya untuk menyewa dunia sebentar saja."
Social Header