
GAZA , 5/4/2026, MedanPers. Id
Dua tahun bombardir tanpa henti telah merenggut lebih dari sekadar nyawa di Gaza. Kini, sekitar 35 ribu warga, mayoritas anak-anak, terperangkap dalam dunia sunyi akibat gangguan pendengaran permanen. Dentuman bom yang menggelegar berulang kali, ditambah runtuhnya layanan kesehatan, mengubah cedera sementara menjadi luka seumur hidup.
Bayangkan Sundus, gadis berusia 6 tahun yang kini hanya bisa mendengar separuh dunia. "Ia kehilangan 50 persen kemampuan pendengarannya," kata seorang tenaga medis di lapangan yang berjuang di tengah puing-puing rumah sakit. Sundus butuh implan koklea untuk kembali mendengar suara ibunya atau tawa teman-temannya. Sayangnya, prosedur itu mustahil: pembatasan alat medis ketat membuat Gaza kehabisan stok. Tanpa intervensi, kemampuan bicaranya, prestasi sekolah, bahkan ikatan sosialnya terancam pudar.
Dokter-dokter Gaza berjuang heroik dengan deteksi dini menggunakan alat seadanya. Namun, minimnya alat bantu dengar dan perangkat diagnostik berarti hanya segelintir pasien yang beruntung mendapat bantuan. "Kami bisa selamatkan ratusan jika alat datang tepat waktu," keluh seorang audiologis, sambil memeriksa antrean panjang anak-anak di klinik darurat yang nyaris roboh.
Krisis pendengaran ini hanyalah luka tak kasat mata di tengah neraka kemanusiaan yang lebih luas. Jutaan warga mengungsi, infrastruktur hancur lebur, dan akses bantuan kemanusiaan masih terhambat. Ribuan anak Gaza kini tumbuh dalam kesunyian perang—sebuah warisan kelam yang akan menghantui generasi mendatang, dari ruang kelas kosong hingga mimpi yang terdengar redup.
Social Header