Breaking News

Indonesia Hadapi Krisis  Demografi Penurunan Kelahiran Drastis Picu Penutupan Sekolah Dasar



Denpasar, Bali  2 Januari 2026 , MedanPers. Id
Indonesia mulai bergulat dengan fenomena "krisis kekurangan anak" yang mirip negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan.

 Penurunan angka kelahiran di wilayah perkotaan kian nyata, memaksa banyak Sekolah Dasar (SD) swasta kecil dan sekolah negeri di pinggiran kota melakukan merger atau tutup permanen akibat minimnya pendaftaran murid baru.Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka kelahiran nasional turun 5-7% per tahun sejak 2020, terutama di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Di Bali, misalnya, beberapa SD negeri di Denpasar Utara melaporkan penurunan siswa hingga 30% dalam tiga tahun terakhir.

 "Kami terpaksa merger dengan sekolah tetangga karena kelas-kelas kosong," ujar Kepala SDN 1 Denpasar Utara, Ni Wayan Sari, kepada awak media.Fenomena ini dipicu faktor kompleks. 

Tren childfree populer di kalangan Gen Z dan Milenial, ditambah beban ekonomi tinggi. Biaya pendidikan anak bisa mencapai Rp500 juta hingga usia 18 tahun, sementara kenaikan upah rata-rata hanya 4-5% per tahun, menurut Kementerian Keuangan.

 "Pasangan muda kini tunda punya anak demi stabilitas finansial di tengah inflasi dan ketidakpastian global," jelas Dr. Rina Susanti, demografer Universitas Indonesia.Debat antargenerasi pun memanas di media sosial. Generasi tua menilai ini egoisme dan erosi nilai budaya, sementara generasi muda balas dengan argumen kesejahteraan mental.

 "Kami bukan ogah punya anak, tapi mau kasih yang terbaik tanpa beban hutang," tulis akun @GenZMom di X, yang viral dengan 50 ribu retweet.Dampak jangka panjang mengkhawatirkan: "Indonesia Cemas 2045". 

Proyeksi BPS memprediksi populasi usia produktif menyusut 15% pada 2045, picu kekurangan tenaga kerja dan beban jaminan sosial. Pemerintah pusat merespons dengan insentif pajak anak dan subsidi pendidikan, tapi pakar seperti Prof. Budi Santoso dari UI menekankan reformasi ekonomi struktural. 

"Tanpa intervensi serius, bonus demografi kita berubah jadi bencana," tegasnya.Kementerian 

Pendidikan belum beri pernyataan resmi terkait penutupan sekolah, tapi isu ini kian mendesak seiring urbanisasi Bali dan Indonesia.
© Copyright 2022 - MEDAN PERS