
Denpasar, 30 Desember 2025
, MedanPers
Saat jarum jam mendekati tengah malam 31 Desember, jutaan orang di seluruh dunia, termasuk di Bali, akan merenungkan perjalanan setahun penuh.
Kalender Gregorian yang kita gunakan sehari-hari, diperkenalkan Paus Gregorius XIII pada 1582, dirancang untuk menyinkronkan hari-hari manusia dengan orbit Bumi mengelilingi Matahari. Tanpa reformasi ini, musim panen bisa bergeser, libur Natal bahkan jatuh di tengah musim panas—skenario yang kini terbayang absurd di iklim tropis Indonesia.Tahun 2025 sendiri berlalu dengan cepat bagi banyak orang. "Setahun ini cepat banget berlalu," tulis seorang jurnalis lokal di media sosial, mencerminkan perasaan umum saat menatap 12 bulan yang tak merata: Januari penuh resolusi baru yang sering pudar cepat, Februari pendek (28 hari non-kabisat), hingga Desember yang selalu tutup dengan 31 hari mantap. Di Bali, Desember berarti puncak musim hujan deras, kontras dengan salju dingin di belahan utara, tapi tetap penuh perayaan seperti Natal, Tahun Baru, dan potensi hujan meteor Geminid yang memukau langit malam.Fenomena ini tak hanya soal angka.
Secara filosofis, Desember mengajak refleksi mendalam: pencapaian apa yang diraih, kegagalan mana yang jadi pelajaran? "Setiap akhir adalah awal baru," ujar pakar sejarah kalender Dr. I Made Santosa dari Universitas Udayana, menekankan bagaimana 31 Desember menjadi pengingat siklus waktu. Di Indonesia, bulan ini juga sarat nuansa lokal—dari silaturahmi keluarga hingga kekhawatiran banjir di Denpasar akibat curah hujan ekstrem.Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi hujan lebat berlanjut hingga akhir Desember 2025, sementara perayaan Tahun Baru 2026 diproyeksikan ramai meski protokol keselamatan ketat.
Bagi warga Bali, momen ini jadi kesempatan bersyukur atas ketahanan menghadapi tantangan lingkungan, seperti pengelolaan sampah pantai yang kian krusial."Selamat Tahun Baru 2026! Semoga penuh tawa, petualangan, dan pengalaman seru," pesan banyak netizen di platform X. Dengan hati hangat dan pikiran terbuka, masyarakat siap membuka lembaran baru—mungkin kali ini resolusi bertahan lebih lama.
Social Header