Breaking News

Anak Panglima GAM Peureulak: Perjuangan Ayah Sia-Sia, Terlupakan Waktu Sangat Pilu


Aceh Timur 26/12/2025, MedanPers. Id
Ambia (20), putra sulung Ishak Daud—panglima tertinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah Peureulak, Aceh Timur—merasa perjuangan berdarah ayahnya kini terlupakan. Keluarga mantan pejuang ini hidup tanpa apresiasi pasca-konflik, meski MoU Helsinki 2005 menjanjikan reintegrasi.

Latar Belakang Ishak Daud
Ishak Daud lahir di Idi Rayeuk, Aceh Timur, pada 12 Januari 1960, dari pasangan Muhammad Daud dan Nuriah. Ia bergabung GAM sejak 1987, dilatih di Libya, dan memimpin operasi Peureulak, termasuk serangan pos ABRI 1990 yang rampas 21 senjata. 

Ditangkap berulang kali, ia bebas amnesti Habibie 1999 sebelum tewas pada 8 September 2004 di Tualang Pateng (Alue Nireh), Peureulak, usia 44 tahun, tertembak kepala dan dada saat baku tembak TNI.

Kronologi Kematian Dramatis
Ishak tewas bersama istri Cut Rostina (hamil) dan pengawal saat wuduk di sungai, dikelilingi bukit. Pengawal Umar selamat dengan 9 peluru bersarang, cerita Ishak tolak mundur: "Ini penentuan hidup mpahit

 Jenazah dievakuasi Jumat (10/9/2004), dimakamkan Sabtu di Blang Glumpang, Kuala Idi Rayeuk; dikenali bekas luka bakar tangan kiri.

 TNI lumpuhkan 14 GAM, sita 10 senjata; 1 TNI tewas.
Keluhan Ambia dan Dukungan Nektu
"Perjuangan ayah saya belum berakhir untuk Aceh," kata Ambia ke Indojayanews.com, 29 Februari 2020, tapi "sia-sia, orang lupa."

Untung Ridwan Abubakar (Nektu), wakil panglima GAM Peureulak (1999-2005), biayai sekolah Ambia dan Anisa; kini politikus DPRA Partai Damai Aceh.
Banyak keluarga GAM serupa hadapi kemiskinan pasca-damai.
Tantangan Reintegrasi Pasca-Damai
BRDA kelola reintegrasi ekonomi-sosial sejak 2005, tapi eks-kombatan Peureulak sering terabaikan. Kasus Wan Jawiw (eks-GAM) pulang 2021 setelah "tewas" 20 tahun tunjukkan trauma berkepanjangan.
 Hingga 2025, cerita Ishak tinggal kenangan pahit.
© Copyright 2022 - MEDAN PERS